Selasa Malam

Selasa malam.. yap, mungkin baru sekitar satu jam-an  (sekarang sekitar jam 23.00 WIB) yang lalu saya sampai rumah di Cimanggis, Depok. Hari ini saya pulang agak malam karena tadi habis meeting kecil-kecilan di salah satu restoran cepat saji di Margonda, Depok yang membahas tentang projek film documenter yang akan saya garap. Saya sebut itu meeting walaupun yang mempercayakan projek pembuatan film documenter itu ke saya adalah teman SMA saya sendiri karena disitu kita sekalian brainstorming kecil-kecilan sambil nonton referensi film documenter yang saya unduh kemarin malam dari YouTube.

Dengan sangat terpaksa meeting-nya atau pertemuan saya dengan teman dilakukan di malam hari, karena dari pagi sampai sore saya tidak bias diganggu karena saya lagi melaksanakan program magang yang sekiranya bias membantu Tugas Akhir D3 saya di daerah Utan Kayu, Jakarta. Ya udah, dengan waktu yang telah di sepakati, kami pun bertemu kurang lebih Ba’da Isya di restoran tersebut. Untuk memenuhi target waktu Ba’ da Isya, saya pun selesai pulang magang jam setengah enam langsung jalan dari Utan Kayu menuju Depok. Dan seperti biasa, namanya juga Jakarta, perjalanan saya meuju Depok dirasa agak kurang lancar akibat padatnya volume kendaraan sehingga menimbulkan kemacetan di ruas jalan  yang saya lewati.

Memang sih agak males kalau udah melihat Jakarta macet, tapi ya apa daya, saya pun tak bias berbuat apa-apa dan mengeluh pun bukan solusinya, jadi saya hanya bersabar saja dan kadang pun bernyanyi diantara bisingnya suara kendaraan bermotor untuk menghibur diri supaya gak terbawa oleh suasana. Waktu sampai Cililitan, nampaknya sih waktu Maghrib telah tiba, tapi entah kenapa kali ini saya begitu kurang mendengar suara kumandang Adzan Maghrib dari lokasi dimana saya mengendarai sepeda motor. Hingga akhirnya awan putih pun semakin menghitam ditelan oleh senja membuat saya yang saat itu baru sampai di daerah Pasar Induk Kramat Jati berhenti sejenak untuk menunaikan Shalat Maghrib di sebuah Masjid yang saya tidak tahu namanya itu.

Ternayata Shalat berjama’ah pun telah hamper usai saat saya baru menginjakan kaki di Masjid itu, segera saya mengambil Wudhu dan menunggu Shalat jama’ah berikutnya dan waktu itu jam Masjid menunjukkan pukul 18.15 WIB. Oke, baru sampai Kramat Jati, masih setengah perjalanan lagi untuk sampai ke Margonda, Depok. Kalau pulang ke rumah saya biasa babelas terus lewat Jalan Raya Bogor dari arah Kramat Jati, tapi kali ini untuk mempercepat waktu sampai ke lokasi, saya memilih lewat Cijantung yang menurut saya itu jalan potong menuju Margonda, Depok yang nantinya akan tembus di daerah Kelapa Dua, Depok.

Motor saya pun terhenti karena menunggu lampu hijau menyala di perempatan Kelapa Dua, sembari menunggu saya kabari teman saya kalau aya sudah sampai disini. Jarak Kelapa Dua dengan Margonda memang tidak jauh dan sepertinya hanya kemacetan yang akan membuat jaraknya menjadi agak jauh bagi pengguna kendaraan bermotor .  Memang sudah lama saya tidak lewat Margonda, dan kali ini saya bernostalgia sambil bermacet ria di Margonda dengan segala kegemerlapannya. Lumayan lah sedikit bernostalgia karena biasanya kalau pulang dan berangkat kuliah saya suka lewat jalan ini dan terkadang juga lewat Kelapa Dua.  Saya rasa kemacetan Margonda belum seberapa dengan kemacetan Jakarta.

Perjalanan saya akhirnya terhenti juga di tempat tujuan saya di salah satu restoran cepat saji itu. Saya segera kabari teman saya kalau saya sudah di tempat supaya bincang-bincangnya segera dimulai.  Kemudian saya langkahkan kaki saya menuju meja restoran yang ada di lantai dua untuk duduk menunggu datangnya teman saya yang tempat tinggalnya gak jauh dari lokasi resotoran. Sembari menunggu saya membaca buku desain yang saya bawa. Kondisi saat itu cukup panas, karena di lantai dua itu tidak ada pendingin ruangannya hanya ada kipas namun tidak menyala dan posisi duduk saya tepat di bawah terangnnya sinar lampu sehingga menambah panas suasana.

Nampaknya suasana menjadi sejuk ketika teman saya yang kerap di sapa Lele ini datang dengan membawa teman karibnya di tempat dia bekerja dan saya menawarkan mereka untuk pindah ke tempat yang lebih sejuk di lantai bawah. Kemudian kita duduk di meja paling ujung karena dekat dengan colokan listrik. Lalu perbincangan diawali dengan  bingungnya memilih menu makanan. Karena saya tidak terlalu lapar, jadi saya hanya memesan minuman saja. Yap, milaulah kita kepada perbincangan inti kita tentang projek film tersebut. Dari tas ransel yang kulitnya sudah mulai rombeng, saya mengeluarkan notebook putih milik kakak saya yang dibeli tahun 2009 untuk memperlihatkan refrensi film documenter.

Namanya juga bukan sama klien  sungguhan tapi sama teman sendiri jadinya perbincangan kita gak terlalu kaku sekali.  Sesekali perbincangan kita diselinggi dengan candaan demi mencairkan suasana. Ditengah-tengah perbincangan, HP saya berbunyi, ternyata telepon dari ayah saya yang menanyakan kabar saya, karena biasanya saya jarang pulang gak semalam itu.  Meeting atau perbincangan kita yang terlalu kaku itu ternyata membuahkan sebuah foto narsis kedua teman saya hasil bidikan kamera saku yang saya bawa. Wajar lah kalau narsis namanya juga anak muda, Hehe. Dengan senyum yang tampak memaksa ternya dua orang anak muda ini mampu berpose di depan kamera, LOL.

Lele dan kawan
Lele dan kawan

Berhubung sudah sekitar jam Sembilan malam, teman saya yang satu pulang duluan, tinggal teman saya yang satu ini masih bertahan di sini. Berhubung masih pengen disini, ya sudah saya perlihatkan beberapa foto kengangan zaman SMP – SMA yang masih saya simpan di harddisk eksternal saya dan munculah celetukan tentang kenangan lama ketika masa SMP – SMA.

Malampun semakin larut, saya pun juga tampak semakin kantuk, waktu sudah hampir jam 10 malam. Kita memutuskan untuk puang dan kembali bertemu lagi di hari Sabtu untuk melihat lokasi pengambilan gambar. Karena jalan pulangnya hamper searah, teman saya minta diantar pulang walau datangnya pun tak dijemput. Habis  mengantar teman, langsung saya melajun kencang dengan menggunakan motor bebek  menuju Cimanggis lewat Jalan Juanda yang pada malam itu terbilang lancar. Dan sampailah saya di rumah, kondisi tubuh memang mengantuk, namun ketika sudah sampai kasur, mata saya gak bias terpejam. Karena gak bias terpejam, gak tahu kenapa saya jadi kebayang-bayang sama blog saya belum di update lagi dan bisikan hati menginginkan saya untuk menulis blog.

Akhirnya saya beranjak dari tempat tidur kemudian segera menyalakan netbook kemudian membuka aplikasi Microsoft Word 2007 dan mulai menggerakan jemari tangan saya untuk menuliskan kata demi kata di layar monitor berukuran 10 inchi di blog shambustory ini. Semoga kalimat – kalimat yang ditulis dari buah pikiran saya pada malam hari ini bisa  bermanfaat bagi para pengunjung sekalian. Kritik dan saran silahkan berkomentar. Akhir kata, Wassalam..

Salam Blogger dan selamat beristirahat🙂