Kemana Hak Pejalan Kaki?

Assalamu’alaikum mas dan mbak bro dimana pun berada…

Alhamdulillah bisa update postingan blog lagi, setelah sekian hari sekian jam dan sekian menit saya “kudet” (kurang update) dikarenakan beberapa alasan tertentu yang gak mungkin saya sebutkan satu persatu, halah.. Ok, saya gak akan negbahas alasan saya kenapa saya jarang nge-blog, kita kembali ke judul postingan “Kemana Hak Pejalan Kaki?.” Baiklah mari kita simak tulisan atau postingan saya ini dengan seksama🙂

Kalau gak salah sekitar dua minggu yang lalu sepulang dari tempat bekerja saya memutuskan untuk pulang ke rumah dengan berjalan kaki karena pada waktu itu saya lagi gak bawa motor. Siang hari itu saya mulai berjalan menuju rumah dari tempat kerja saya yang berada di daerah Jl. Juanda, Depok, Jawa Barat. Bisa dibilang sih jarak rumah saya dengan tempat kerja sih ya gak jauh-jauh amat kalau naik kendaraan (khusunya motor), tapi kalau jalan kaki ya cukup memakan waktu dan tenaga.

Cuaca di siang itu bisa dibilang cukup panas, namun saya gak tau seberapa besar tingkat suhu udara di siang itu, kenapa saya memutuskan untuk jalan kaki? Alasan adalah selain saya gak bawa motor, di Jl. Juanda, Depok itu gak ada angkutan umum (angkot) yang lewat kecuali ojek. Kalau naik ojek sudah pasti bayarnya mahal. Daripada saya bayar mahal hanya untuk ojek mendingan juga jalan kaki deh, hitung-hitung sambil membakar lemak di siang hari deh, hehe.

Saya pun mulai menyusuri pinggiran jalan Juanda sembari melangkahkan kaki saya yang berukuran sepatu dengan nomor 43 menuju arah Cisalak, Depok.  Beruntung, sebelum berangkat bekerja saya sudah mempersiapkan kamera saku yang selain digunakan untuk keperluan bekerja biasa saya gunakan untuk mengabadikan momen berharga yang mungkin saya dapati selama di perjalanan.

Di tengah panasnya perjalanan saya saat berjalan kaki di siang itu, saya merasakan kegeliasahan yang teramat dalam (lebay banget yaaa). Ya memang inilah kegelisahan saya sebagai pejalan kaki ketika saat saya sedang asyik berjalan, tiba-tiba perjalanan saya terusik akan keberadaan trotoar jalan yang sudah tidak berfungsi sepenuhnya sebagai media atau area berjalan bagi pejalan kaki. Dan saya pun berhasil mendokumentasikan ke dalam bentuk gambar mengenai kondisi trotoar yang ada di salah satu sudut Jl. Juanda, Depok. Penasaran ingin melihatnya? Silahkan lihat gambar yang saya abadikan berikut:

Trotoar Juanda
Salah satu trotoar yang dipakai untuk berjualan tanaman, sehingga membuat kondisi trotoar menjadi sempit.
Trotoar Juanda
Trotoar yang jaraknya berdempetan dengan rumah makan, sehingga trotoar menjadi tidak ideal untuk dilewati.
Trotoar Juanda
Trotoar yang terhalang oleh keserakahan si pemarkir mobil.
Trotoar Juanda
Trotoar dalam kondisi yang tak terawat dan sangat memprihatinkan.
Trotoar Juanda
Trotoar dipakai berjualan tanaman
Trotoar Juanda
Trotoar yang terabaikan.

Kondisi trotoarnya kalau dilihat-lihat sih cukup mengenaskan karena sebagian besar trotoarnya sudah terlihat gak terurus lagi. Bisa diliaht kan konsidinya gimana, ada yang dipakai buat jualan tamaman, ada mobil yang serakah banget parkir sampai menutupi badan trotoar dan lainnya.

Memang sih, kalau kita sering melihat di berbagai sudut jalan faktanya jumlah pejalan kaki itu lebih sedikit ketimbang jumlah pengendara. Apakah mentang-mentang jumlah pejalan kakinya sedikit, kondisi trotoar bagi pejalan kaki haru terabaikan kayak gini?  Jangan mentang-mentang jumlah pengendara lebih banyak terus hanya jalanan bagi pengendara saja yang kemudian di perbaiki dan kemudian trotoar yang ada di sisi jalan tetap di terlantarkan perawatannya?

Ini hanyalah gamabaran kecil mengenai kondisi trotoar yang ada di Depok, Jawa Barat,  saya rasa sih hal seperti ini gak terjadi di Depok aja deh, ya mungkin kalian kerap menjumpai hal seperti ini. Lalu siapa yang bertanggung jawab akan hal ini? Lalu kemana dan dimana hak pejalan kaki kalau hal seperti ini terus diabaikan? Ya semoga suatu saat nanti pejalan kaki bisa menikmati hak nya secara utuh dan makin banyak yang berjalan kaki ketimbang yang berkendara (Do’a untuk diri sendiri, hehe).

Diharapkan, Insya Allah tulisan ini bisa menggugah perasaan dari para pemangku jabatan yang gak sengaja mampir ke blog saya supaya sekiranya bisa lebih peduli lagi terhadap hak pejalan kaki, Wassalam🙂

2 thoughts on “Kemana Hak Pejalan Kaki?

  1. Wah iya mbak, betul itu.. Apalagi di Malioboro, trotoarnya sudah penuh sesak dibanjiri sama PKL.. Hahaha.. Kapan ya kira-kira trototoar bisa berfungsi dengan sempurna??

Comments are closed.