Cerita Mudik 2014

Mudik by shambustory
Mudik by shambustory

Hola, Assalamu’alaikum

Apa kabar semua?? Semoga semuanya baik-baik aja. Saya ucapkan selamat Idul Fitri 1435 H, Mohon maaf lahir dan batin walaupun sudah lewat, hehe..

Karena ini setidaknya masih ada sedikit suasana lebaran, saya mau minta maaf kepada pembaca blog saya sekalian karena saya jarang posting, hehe. Sebenarnya gairah menulis itu sudah ada sejak lama, tapi gairah itu baru bisa tersalurkan sekarang, ya biasa lah saya kan sok sibuk  gitu, haha.

Btw, gimana lebaran kalian kemarin nih? Semoga lebaran kemarin jadi lebaran yang menyenangkan buat kalian🙂. Yay, saya mau sedikit cerita tentang lebaran saya tahun ini.

Kalau lebaran tahun kemarin keluarga saya pada pulang mudik sedangkan saya gak ikut mudik karena asalan tahun kemarin saya lagi fokus ngerjain tugas akhir, jadi selama kurang lebih seminggu saya dirumah sendiri dan saya Sholat Ied-nya di masjid komplek yang gak jauh dari rumah, nah lebaran tahun lalu itu singkat ceritanya seperti itu. Dan tahun ini Alhamdulillah saya bisa ikut mudik lebaran.

Lebaran tahun ini saya mudik ke Bantul, Jogjakarta dan ke Salatiga, Semarang. Walaupun kakek dan nenek sudah gak ada, mudik lebaran tetap jalan demi menjalin silaturahmi ke saudara-saudara yang masih ada di sana, yaa selain silaturahmi mudik lebaran selebihnya untuk jalan-jalan dan refreshing lah.

Oke, kita mulai menelusuri perjalanan mudik saya.

Sabtu 26 Juli ’14 jam 10 pagi saya berangkat dari rumah saya di Cimanggis, Depok, Jawa Barat menuju Jogja. Sebelum berangkat dengar kabar kalau katanya tol Cikampek macet total mulai dari daerah Cikarang, kebetulan yang bawa mobil ayah saya dan ayah saya memutuskan untuk motong jalan ke arah selatan (Bandung) lewat Jonggol terus tembusnya di Ciranjang, Cianjur dan kalau mau ke arah Bandung tinggal terus aja ke arah Padalarang.

Dulunya waktu belum ada tol Cipularang, ruas jalan Jonggol memang digunakan sebagai jalan alternatif bagi pengendara dari Jakarta yang mau ke Bandung dan sebaliknya selain jalur utama Puncak dan Purwakarta. Dan ruas jalan Jonggol sekarang gak serame dulu, kalau sekarang kita lewat jalan sana cukup lengang untuk dilewati. Tapi saya gak nge-rekomendasiin untuk jalan malam lewat sana kalau belum biasa soalnya dari penglihatan saya jalan di sana minim penerangan dan juga minim bengkel sama tukang tambal ban, kalau naik motor malam-malam lewat sana kan agak ngeri dan mesti hati-hati banget tuh.

Perjalanan lewat Jonggol memang cukup menantang karena jalan yang berkelok dan naik turun tanjakan dengan dikelilingi pepohonan dan perbukitan / pegunungan kecil yang asri, namun keasrian itu tampaknya harus sirna karena beberapa area perbukitan / pegunungan yang ada di daerah sana sudah di ekploitasi dengan melakukan pengerukan tanah dari bukit tersebut yang sepertinya dilakukan secara terus menerus, saya pun jadi miris ngeliatnya.

Eksploitasi alam Jonggol, Jawa Barat
Lokasi: Jonggol, Jawa Barat. Foto diambil dari dalam mobil.
Eksploitasi alam Jonggol, Jawa Barat
Tuh alat beratnya aja gede-gede dan banyak banget untuk merusak alam #mungkin.

Kalo hal kayak begini terus dibiarkan bisa rusak alam kita. Aparat kita mestinya bisa bertindak tegas tuh, huh #gelisah.

Setelah melewati jalan yang agak berkelok-kelok sampai juga saya di daerah Ciranjang, Cianjur. Jalan di daerah sana agak padat dan sedikit macet. Nah berhubung saya lewat Bandung, kota kelahiran saya, kami sekeluarga mampir dulu untuk nengok keponakan yang baru ngelahirin di Cimahi (FYI: Dulu kota Cimahi adalah tempat tinggal saya dari lahir sampai kelas 4 SD) tepatnya di daerah Gunung Bohong.

Hampirlah saya sampai di rumah saudara saya dan kami sedikit terjebak macet lagi di daerah Ciburuy, Padalarang sana. Waktu sudah sampai Padalarang agak bingnung mau ke Cimahi-nya lewat tol apa lewat kota. Kalau lewat kota khawatir kena macet aja, tapi ngeliat kondisi jalan di Padalarang menuju kota Cimahi yang gak terlalu padat, kami mutusin untuk lewat kota aja dan ambil jalan potong supaya dekat jarak tempuhnya.

Kalau gak salah kami sampai di Cimahi itu sekitar jam 3 sore-an, ya bisa dibilang waktu tempuh segitu adalah waktu tempuh yang abnormal menurut saya, biasa kalau lancar Jakarta-Bandung via Jonggol bisa ditempuh selama kurang lebih 4 jam menurut pengalaman saya waktu masih SD dulu lewat sana, karena macetnya mudik jadi dianggap wajar lah.

Saya di Cimahi saya juga gak lama-lama, jadi saya gak sempet ketemu temen-temen lama (temen SD) yang ada di sana (maaf ya kawan saya gak sempat mampir), cuma nengok bayi sekitar satu jam-an aja terus langsung pergi lagi. Nah ini dia bayi ponakan saya yang minggu lalu baru lahir di bumi yang bentuknya bunder ini:

Ranu Azka Arsaka
Ranu Azka Arsaka

Jam setengah lima kami pun melanjutkan perjalanan menuju Jogja. Dari Cimahi menuju arah Nagreg lewat tol Cileunyi. Keluar tol agak sedikit padat merayap di daerah Rancaekek dan di daerah Cicalengka menuju Nagrek ini macet parah gak bergerak saat waktu Maghrib kemungkinan sih karena faktor buka tutup jalan.

Malam Minggu itu kami habiskan seluruh waktu kami di dalam perjalanan mudik dan sampai keesokan harinya kami pun masih berada di dalam perjalanan. Kemacetan pun kembali kami alami ketika berada di daerah Jawa Barat setelah Nagrek dan juga ketika memasuki daerah Jawa Tengah. Kami pun sempat mampir untuk shalat Ashar di daerah Gombong kalau gak salah.

Waktu di Gombong dapet foto human interest #photography

Setelah melewati berbagai halangan dan rintangan yang gak terduga di jalan, sampailah kami di daerah perbatasan Jogja, yaitu Wates sekitar waktu Maghrib di hari Minggu. Dan perjalanan kami terhitung kurang lebih hampir 32 jam Jakarta – Jogja, wow emeizing banget kan? Haha. Itu saja kami belum sampai tempat tujuan utama ke kota Bantul.

Sebelum ke Bantul kami mampir dulu ke tempat / kampungnya suami adiknya ayah di daerah Pantai Glagah, Wates yang kebetulan kami lewati baru setelah itu kita menuju ke Bantul. Perjalanan dari Wates ke Bantul aga lumayan padat karena pada malam itu adalah malam Takbiran dan banyak warga yang melakukan Takbir keliling jadinya jalanan jadi agak sedikit tersendat, walau tersendat Alhamdulillah kami sampai ke tempat tujuan utama di rumah kakak dari ibu saya di Gesikan, Bantul (Bantul adalah kampung ibu saya).

Alhamdulillah kami sekeluarga bisa melaksanakan hari raya dan shalat Ied di kampung halaman. Dan tahun ini kita bisa berlebaran dengan waktu yang serempak tanpa adanya perbedaan waktu pelaksanaan, Subhanallah. Lebaran hari pertama dan hari kedua kami habiskan dengan bersilaturahmi ke rumah saudara / kakak dari ibu saya yang masih ada.

Di hari lebaran kedua saya juga sempet hunting foto pagi-pagi di lingkungan sekitar rumah bude saya dan berikut adalah hasil fotonya:

Rumah di sawah, itu harmoni bukan yaa?
Enak ya suasana kayak gini, di Jakarta mah gak ada beginian.
Soto murah di Bantul.

Lebaran hari ke tiga saya jalan-jalan ke Candi Prambanan. Berangkat dari Bantul sekitar jam 2 siang lewat dan perjalanan ke arah sana lumayan macet, jalanan Jogja dipenuhi sama kendaraan berplat nomor luar Jogja. Sekitar jam 4 an sore lewat sampai juga di Candi Prambanan. Ke tempat bersejarah kayak gini sayang banget kalo gak ngabadiin momen menarik lewat foto, penasaran sama hasil foto saya, nih saya tampil beberapa hasil foto jepretan saya:

Silhouette / siluet Candi Prambanan.
Isinya Candi.
Sore di Candi.

Baru di hari Kamis saya sekeluarga melanjutkan perjalanan ke kampong Bapak saya di Salatiga, Semarang, Jawa Tengah. Kalau dari Jogja mau ke Semarang bias lewat Solo atau juga bias lewat Magelang. Kalau jaman dulu jarak tempuh Jogja – Semarang (Ambarawa) via Magelang bias ditempuh sekitar 2 jam-an itu waktu jaman belum kenal sama yang namanya kemacetan. Tapi kalau kemarin sih jarak tempuhnya agak lama lewat Magelang karena jalanannya sudah kenal sama yang namanya macet, haha.

Di Salatiga saya hanya dua hari di sana dari Kamis malam dan hari Sabtu sudah harus pulang karena perjalanan Semarang – Jakarta yang jaraknya tidaklah sangat dekat. Saya cuma dapat silaturahmi ke satu rumah saudara saya aja yang berprofesi sebagai arsitek dan ngejenguk keponakan saya yang dirawat di rumah sakit kena wabah chikungunya dan sempat mencicipi makanan khas Salatiga yaitu wedang ronde, serta bisa ketemu ponakan saya yang baru berusia sekitar 4 bulan yang ndut dan lucu banget, mantap!

Keponakan saya namanya Bintang, gendut dan lucu serta lugu🙂

Sabtu, 2 Agustus jam 10 pagi kami sudah mulai melakukan perjalanan pulang. Berhubung tau kabar kalau jalur Pantura ke arah Pemalang macet total hampir puluhan kilo karena jembatan Comal yang amblas, akhirnya kami memutuskan untuk menghindari jalur Pantura dan memilih melewati jalur tengah (Ambarawa – Temanggung – Wonosobo – Banjarnegara – Purbalingga – Slawi kemudian masuk ke jalur Pantura Tegal). Walaupun sebenarnya jaraknya jadi nambah jauh soalnya harus muter dulu dan alih-alih pegen cepet serta menghindari macetnya pantura, eh malah tetep aja kena macet juga sedikit. Sebenarnya itu adalah kali pertama kami pulang balik Lebaran lewat jalur itu dan panduan jalan kami hanyalah peta mudik lebaran dan plang resmi jalan raya.

Waktu sekitar jam 10-an malam kami pun baru sampai di daerah Slawi dan Tegal, sementara perjalanan kami menuju Jakarta masih lumayan jauh. Untungnya mobil yang kami gunakan pun cukup tangguh untuk medan mudik lebaran yang kami lewati🙂

Pajero Sport memang tangguh dipakai mudik #Alhamdulillah.

Macet terasa banget ketika kita sampai di jalur Pantura Tegal menuju kea rah Brebes, kondisinya ramai tersendat gitu deh. Tengah malam pun kami masih berada di daerah Tol Pejagan arah Cirebon. Di jalan tol yang bias menuju arah Indramayu itu pun kena imbas macet karena padatnya kendaraan arah balik. Kami memutuskan untuk lewat jalur tengah Subang, Cikamurang demi menghindari macet di Pantura dan Alhamdulillah lewat jalur tengah malah gak macet, mungkin gak banyak orang tahu lewat jalur tengah taunya Cuma pantura aja makanya pantura tu macet banget.

Hingga esok hari Minggu tiba. Minggu pagi kami masih berada di daerah Subang, Jawa Barat. Dari Subang kea rah tol Sadang gak begitu macet, eh tapi pas masuk tol Sadang macetnya gila-gilaan sampai ke arah Jakarta gitu. Alhamduliillah atas izin Allah segala halang rintang dan ujian selama mudik telah berhasil kami lewati, sekitar jam 1 siang kami sudah sampai kembali di rumah.

Rasa syukur kepada Allah gak henti-henti saya ucapkan kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta karena bisa mudik tahun ini, perasaan juga senang dan bercampur sedih karena masih diberi kesempatan mudik, soalnya masih banyak di luar sana orang yang mau mudik tapi masih belum diberi kesempatan alias gak bisa mudik.

Yay, inilah sekelumit cerita menarik perjalanan mudik lebaran saya di tahun 2014, gimana nih dengan cerita menarik mudik lebaran kamu? Share disini yaa..

Makasih yaa sudah mampir membaca postingan ini. Selamat malam semuanyaaa dan waktunya tiduuurrr😀