Pahit Dalam Berkendara (Part 1)

Jpeg

Kali ini biasanya gue nulis dengan gaya bahasa formal, tetapi kali ini gue skip dulu bahasa formalnya, gue bakalan nulis pakai bahasa yang biasa gue gunakan sehari-hari oleh sebab hal atau konten yang mau gue tulis di post ini terjadinya di Jakarta sehingga gue pengen nulis pakai bahasa keseheharian gue supaya lebih afdol, lebih enak dan lebih bebas (menurut gue).

Well, sesuai dengan janji gue di tulisan duka cita gue sebelumnya, gue akan coba share pengalaman pahit gue sewaktu berkendara di Jakarta tepatnya berkendara mobil. Seperti apa pengalamannya? Simak penuturan dan cerita gue berikut ini..

Sebermula ketika hari Sabtu itu tanggal 16 Juli tepatnya, gue hendak pergi ke kampus untuk melihat temen gue pameran tugas akhir. Sebetulnya saat itu kampus memang sedang libur pasca Lebaran, tetapi kalau yang pameran TA enggak ngaruh, tetep aja mesti berlangsung dan dilaksanakan pamerannya.

Karena sebenarnya gue juga agak males jalan ke kampus saat itu, tetapi demi ngelihat teman yang lagi pameran TA, akhirnya gue mau gak mau mesti jalan ke kampus yang jaraknya memang cukup jauh dari rumah gue, yaa gue males kan juga karena jaraknya jauh haha. Hingga Sabtu siang sekitar habis Dzuhur gue merencanakan untuk berangkat ke kampus.

Tapi karena hari itu sudah siang, dan kalau siang gue khawatir kalau naik motor bakalan macet banget, karena kenyataan pahit yang mesti dialami oleh pengendara di Jakarta kalau Sabtu itu malahan juga macet yang kadang macetnya lebih daripada hari biasa, akhirnya gue memutuskan untuk bawa atau naik mobil. Nah biar supaya enggak sepi atau enggak sendirian banget, gue ngajakin temen kuliah gue waktu D3 dulu si Masbero Al untuk ikut gue jalan ke kampus karena memang juga sebelumnya dia sudah ngajakin gue jalan.

Sekitar Ba’da Dzuhur siang gue keluar rumah menuju rumah temen gue sekalian langsung ke kampus dengan mengendarai mobil. Niatnya sih pengen enggak kena macet di jalan biasa, eh gak taunya di jalan tol malahan agak padat juga, gimana sih haha.

Ya! Siang itu gue disuguhkan dengan jalanan ibu kota yang cukup padat sehingga kemacetan pun mau tak mau mesti terjadi di beberapa titik. Alhamdulillah gue berhasil melewati beberapa titik macet itu sehingga gue bisa sampai di kampus dengan selamat.

Siang pun berganti menjadi sore. Cuaca siang yang cukup memanaskan bumi perlahan kian memudar dan kini mulai memberikan sedikit kesejukan pada sore hari. Sekitar jam 5 sore ketika urusan di kampus gue rasa sudah cukup atau selesai, gue akhirnya memilih beranjak pergi walau sebetulnya gue dan temen gue enggak ada atau enggak punya tujuan yang jelas bakalan beranjak kemana, terlebih waktu itu adalah weekend, sayang aja rasanya kalau langsung pulang hehe.

Tadinya kita memutuskan pengen ke Pantai Ancol, ya udah deh sehabis dari kampus yang penting kita keluar dulu menuju arah sana. Dan setelah sudah mengarahkan mobil ke arah tujuan karena ada alasan yang terselubung, akhirnya gue berdua mengurungkan niat untuk ke Ancol, pada akhirnya gue memilih untuk keliling Jakarta aja sambil menghabiskan waktu di malam Minggu.

Karena mengurungkan niat untuk pergi ke pantai, sewaktu di tol menuju arah Ancol, gue memutuskan untuk keluar tol di daerah Kota Tua dengan kemudian melanjutkan berkendara di jalan biasa sembari nyari tempat Shalat Maghrib karena saat itu sudah waktunya. Dari Kota Tua perjalanan gue arahkan ke arah Jakarta Pusat, tepatnya gue ingin menuju Masjid Sunda Kelapa untuk Maghrib-an disana.

Walau jaraknya agak jauh dari Kota ke sana, Alhamdulillah Maghrib nya masih kekejar. Karena waktu Isya juga tinggal sebentar lagi, selepas Maghrib gue memilih untuk nunggu Isya sekalian biar tenang lah kalau sudah Shalat. Selepas Isya kami kembali melanjutkan perjalanan kita untuk melancong tetapi enggak langsung naik mobil karena gue ingin mengunjungi Taman Suropati dulu yang letaknya enggak jauh dari Sunda Kelapa.

Tibalah kita dihadapkan dalam titik jenuh ketika kita berada di taman hingga akhirnya memutuskan bergegas untuk beranjak pergi meninggalkan taman dan segera mengeinjak pedal gas dan pedal rem demi menuju destinasi yang masih enggak jelas berikutnya, haha.

Dan ujung-ujungnya adalah kita hanya mutar-mutar Jakarta. Selepas dari Sunda Kelapa Tadi gue mengarahkan mobil gue menuju arah utara. Secara memang gue sudah biasa ngelakuin hal ini muter-muter Jakarta yang kadang gue lakukan dengan berkendara motor.

Hingga tibalah sesuatu yang teramat sangat pahit, enggak diinginkan, sangat memilukan, menyedihkan dan cukup menggalaukan hati pun terjadi.

Apa yang terjadi? Tunggu tulisan berikutnya.

Terimakasih.